Ini adalah Ekspedisi saya tahun 1987, di Gunugn Rinjani, dan ini adalah publikasinya di media cetak (
welcome
selamat datang di bebacotan...
my profile
- jamal mahfudz
- Jamal Mahfudz, penulis lepas yang juga video editor dan desain grafis
categories
Minggu, 17 Oktober 2010
MY EXPEDITION
Diposting oleh
jamal mahfudz
di
19.57
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
MY EXPEDITION MEMORY
MY PICTURE IS JADUL (4)
Diposting oleh
jamal mahfudz
di
19.33
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
MY PICTURE
Sabtu, 16 Oktober 2010
MY PICTURE IS JADUL (3)
Diposting oleh
jamal mahfudz
di
20.11
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
MY PICTURE
MY PICTURE IS JADUL (2)
Diposting oleh
jamal mahfudz
di
20.05
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
MY PICTURE
MY PICTURE IS JADUL
Diposting oleh
jamal mahfudz
di
19.34
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
MY PICTURE
Berjabat Tangan
Oleh : Jamalullail Mahfudz
''Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.'' (QS Al-Hujurat [49] : 10).
Suatu ketika seorang bertanya kepada Rasulullah SAW, "Wahai Rasulullah, apabila seorang di antara kami bertemu dengan saudara atau kawannya, apakah ia harus membungkukkan diri?'' Rasulullah menjawab, ''Tidak.'' Orang itu bertanya lagi, ''Apakah ia harus mendekap dan menciumnya?'' Rasulullah kembali menjawab, ''Tidak.'' Lalu orang itu masih bertanya lagi, ''Apakah ia harus memegang tangannya dan menjabatnya?'' Rasulullah menjawab, ''Ya.'' (HR Tirmidzi).
Hadis di atas menganjurkan kaum Muslim untuk saling berjabat tangan atau bersalaman (mushafahah) manakala bertemu saudara atau kawan sesama Muslim, bahkan sesama Muslim yang belum kenal. ''Dan apabila kamu dihormati dengan suatu (salam) penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (penghormatan itu, yang sepadan) dengannya. Sungguh, Allah memperhitungkan segala sesuatu.'' (QS An Nisa [4] : 86).
Rasulullah SAW menjelaskan, bila umatnya saling berjabat tangan ketika bertemu, maka Allah SWT akan memberikan ampunan-Nya. Subhanallah, amalan yang ringan, tapi sungguh berat nilainya di sisi Allah SWT. Seperti dikatakan Al Barra RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ''Jika dua orang Muslim bertemu kemudian mereka berjabat tangan maka dosa kedua orang tersebut diampuni sebelum keduanya berpisah.'' (HR Abu Daud dan Tirmidzi).
Dengan jabat tangan akan terjalin tali persaudaraan (ukhuwah) di antara umat Islam. Juga akan menepis kesan angkuh, sombong, dan egois. Amalan ini juga akan menangkis rasa permusuhan dan dendam. Dengan begitu, bukan tak mungkin akan terwujud sebuah masyarakat yang damai dan dirahmati Allah SWT.
Oleh karena itu, alangkah indahnya jika amalan berjabat tangan ini menjadi kebiasaan dalam kehidupan umat Islam sehari-hari. Ketika bertemu di lingkungan tempat tinggal, di kantor, di pasar, di sekolah, atau di rumah dengan istri dan anak, kaum Muslim menyampaikan salam dan kemudian berjabat tangan. Insya Allah, sesama umat Islam akan hidup dengan kasih sayang dan Allah SWT akan selalu menurunkan rahmat-Nya.
* Artikel ini pernah dimuat di Harian Republika
''Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.'' (QS Al-Hujurat [49] : 10).
Suatu ketika seorang bertanya kepada Rasulullah SAW, "Wahai Rasulullah, apabila seorang di antara kami bertemu dengan saudara atau kawannya, apakah ia harus membungkukkan diri?'' Rasulullah menjawab, ''Tidak.'' Orang itu bertanya lagi, ''Apakah ia harus mendekap dan menciumnya?'' Rasulullah kembali menjawab, ''Tidak.'' Lalu orang itu masih bertanya lagi, ''Apakah ia harus memegang tangannya dan menjabatnya?'' Rasulullah menjawab, ''Ya.'' (HR Tirmidzi).
Hadis di atas menganjurkan kaum Muslim untuk saling berjabat tangan atau bersalaman (mushafahah) manakala bertemu saudara atau kawan sesama Muslim, bahkan sesama Muslim yang belum kenal. ''Dan apabila kamu dihormati dengan suatu (salam) penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (penghormatan itu, yang sepadan) dengannya. Sungguh, Allah memperhitungkan segala sesuatu.'' (QS An Nisa [4] : 86).
Rasulullah SAW menjelaskan, bila umatnya saling berjabat tangan ketika bertemu, maka Allah SWT akan memberikan ampunan-Nya. Subhanallah, amalan yang ringan, tapi sungguh berat nilainya di sisi Allah SWT. Seperti dikatakan Al Barra RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ''Jika dua orang Muslim bertemu kemudian mereka berjabat tangan maka dosa kedua orang tersebut diampuni sebelum keduanya berpisah.'' (HR Abu Daud dan Tirmidzi).
Dengan jabat tangan akan terjalin tali persaudaraan (ukhuwah) di antara umat Islam. Juga akan menepis kesan angkuh, sombong, dan egois. Amalan ini juga akan menangkis rasa permusuhan dan dendam. Dengan begitu, bukan tak mungkin akan terwujud sebuah masyarakat yang damai dan dirahmati Allah SWT.
Oleh karena itu, alangkah indahnya jika amalan berjabat tangan ini menjadi kebiasaan dalam kehidupan umat Islam sehari-hari. Ketika bertemu di lingkungan tempat tinggal, di kantor, di pasar, di sekolah, atau di rumah dengan istri dan anak, kaum Muslim menyampaikan salam dan kemudian berjabat tangan. Insya Allah, sesama umat Islam akan hidup dengan kasih sayang dan Allah SWT akan selalu menurunkan rahmat-Nya.
* Artikel ini pernah dimuat di Harian Republika
Diposting oleh
jamal mahfudz
di
18.49
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
HIKMAH
Shalat Dhuha
Oleh : Jamalullail Mahfudz
Di antara shalat sunah yang dianjurkan Rasulullah SAW adalah shalat dhuha. Sebagaiman diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, ''Kekasihku (Rasulullah SAW) mewasiatkan kepada tiga hal, pertama supaya berpuasa tiga hari setiap bulan, kedua supaya shalat dhuha dua rakaat, dan ketiga supaya shalat witir sebelum tidur.'' (HR Bukhari Muslim).
Shalat dhuha dilaksanakan pagi hari ketika matahari sudah menampakkan sinarnya. Rasulullah SAW bersabda, ''Shalat dhuha dilakukan apabila anak-anak unta telah merasakan kepanasan (karena tersengat matahari).'' (HR Muslim).
Menurut Ibnul Qayyim al-Jauzi, jumlah rakaat shalat dhuha tidak ada batas maksimal, tergantung kemampuan dan kesempatan seorang Muslim yang hendak mengamalkannya. Aisyah berkata, ''Biasanya Rasulullah melakukan shalat dhuha empat rakaat dan beliau menambah.'' (HR Muslim).
Allah SWT akan menjauhkan dari siksa api neraka dan mengganti dengan surga bagi yang mengamalkan shalat dhuha. ''Di dalam surga terdapat pintu yang bernama bab ad-dhuha (pintu dhuha) dan pada hari kiamat nanti ada orang memanggil. Di mana orang yang senantiasa mengerjakan shalat dhuha? Ini pintu kamu, masuklah dengan kasih sayang Allah.'' (HR Tabrani).
Keistimewaan lainnya adalah sebagai rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat kesehatan setiap persendian di tubuh kita. Nabi Muhammad SAW mengungkapkan bahwa di tubuh manusia bersemayam 360 sendi yang setiap harinya harus disedekahkan. Dan sebagai penggantinya adalah shalat dhuha. Shalat dhuha juga sebagai sebuah pengharapan supaya Allah SWT melimpahkan rahmat dan nikmat, baik fisik maupun materi, sepanjang hari yang kita lalui. ''Allah SWT berfirman, Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas melakukan shalat empat rakaat pada pagi hari, yakni shalat dhuha, niscaya nanti akan Kucukupi kebutuhanmu hingga sore hari.'' (HR Hakim dan Tabrani).
Betapa rahmat dan nikmat Allah SWT begitu besar dikucurkan kepada kita setiap harinya. Shalat dhuha merupakan ekspresi Muslim akan rasa syukur yang tiada terhitung tersebut, sekaligus sebagai permohonan diberikannya napas kehidupan baru di hari-hari yang hendak kita jalani.
Memang, tidak mudah untuk melaksanakan shalat dhuha. Mengingat waktunya yang bertepatan dengan jam-jam dimulainya aktivitas keseharian, untuk melaksanakan shalat dhuha menjadi persoalan tersendiri. Bagi seorang pegawai, pada waktu-waktu itu sedang sibuk menyiapkan keberangkatan dan memulai untuk bekerja. Demikian pula dengan pedagang yang sibuk memulai dagangannya.
Namun, sesempit apa pun waktu kita karena aktivitas sehari-hari, jika shalat dhuha telah dibiasakan, insya Allah akan ringan untuk mengamalkannya.
* Artikel ini pernah dimuat di Harian Republika
Di antara shalat sunah yang dianjurkan Rasulullah SAW adalah shalat dhuha. Sebagaiman diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, ''Kekasihku (Rasulullah SAW) mewasiatkan kepada tiga hal, pertama supaya berpuasa tiga hari setiap bulan, kedua supaya shalat dhuha dua rakaat, dan ketiga supaya shalat witir sebelum tidur.'' (HR Bukhari Muslim).
Shalat dhuha dilaksanakan pagi hari ketika matahari sudah menampakkan sinarnya. Rasulullah SAW bersabda, ''Shalat dhuha dilakukan apabila anak-anak unta telah merasakan kepanasan (karena tersengat matahari).'' (HR Muslim).
Menurut Ibnul Qayyim al-Jauzi, jumlah rakaat shalat dhuha tidak ada batas maksimal, tergantung kemampuan dan kesempatan seorang Muslim yang hendak mengamalkannya. Aisyah berkata, ''Biasanya Rasulullah melakukan shalat dhuha empat rakaat dan beliau menambah.'' (HR Muslim).
Allah SWT akan menjauhkan dari siksa api neraka dan mengganti dengan surga bagi yang mengamalkan shalat dhuha. ''Di dalam surga terdapat pintu yang bernama bab ad-dhuha (pintu dhuha) dan pada hari kiamat nanti ada orang memanggil. Di mana orang yang senantiasa mengerjakan shalat dhuha? Ini pintu kamu, masuklah dengan kasih sayang Allah.'' (HR Tabrani).
Keistimewaan lainnya adalah sebagai rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat kesehatan setiap persendian di tubuh kita. Nabi Muhammad SAW mengungkapkan bahwa di tubuh manusia bersemayam 360 sendi yang setiap harinya harus disedekahkan. Dan sebagai penggantinya adalah shalat dhuha. Shalat dhuha juga sebagai sebuah pengharapan supaya Allah SWT melimpahkan rahmat dan nikmat, baik fisik maupun materi, sepanjang hari yang kita lalui. ''Allah SWT berfirman, Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas melakukan shalat empat rakaat pada pagi hari, yakni shalat dhuha, niscaya nanti akan Kucukupi kebutuhanmu hingga sore hari.'' (HR Hakim dan Tabrani).
Betapa rahmat dan nikmat Allah SWT begitu besar dikucurkan kepada kita setiap harinya. Shalat dhuha merupakan ekspresi Muslim akan rasa syukur yang tiada terhitung tersebut, sekaligus sebagai permohonan diberikannya napas kehidupan baru di hari-hari yang hendak kita jalani.
Memang, tidak mudah untuk melaksanakan shalat dhuha. Mengingat waktunya yang bertepatan dengan jam-jam dimulainya aktivitas keseharian, untuk melaksanakan shalat dhuha menjadi persoalan tersendiri. Bagi seorang pegawai, pada waktu-waktu itu sedang sibuk menyiapkan keberangkatan dan memulai untuk bekerja. Demikian pula dengan pedagang yang sibuk memulai dagangannya.
Namun, sesempit apa pun waktu kita karena aktivitas sehari-hari, jika shalat dhuha telah dibiasakan, insya Allah akan ringan untuk mengamalkannya.
* Artikel ini pernah dimuat di Harian Republika
Diposting oleh
jamal mahfudz
di
18.38
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
HIKMAH
Langganan:
Komentar (Atom)






